TUHAN DAN NABI MUHAMMAD SAW

Patung Merlion Singapore

Misbah al-Mubarak
(Presiden Pascasarjana PTIQ-JAKARTA)

Agama Islam adalah agama yang terakhir yang dikirim Allah kepada Ummat manusia sebagai penyempurnah seluruh Agama yang Allah kirim sebelumnya. Diutusnya Rasulullah sebagai penutup para Nabi dan Rasul adalah bukti kerisalahan yang dibawa Nabi adalah sebaik-baik ajaran yang akan membawa manusia berjumpa dengan Tuhan-Nya. Kurang lebih 1453 tahun yang lalu Agama Islam telah memperlihatkan eksistensinya sebagai Agama terakhir yang benar-benar dikirim Allah SWT., Rasulullah Muhammad SAW telah berhasil mengibarkan bendera ke-Islaman dan mencabit-cabit bendera kejahiliaan, telah membawa ummat manusia dari zaman biadab kemuju zaman yang beradab, dari zaman naik unta kezaman naik pajero. Kaum orentalis-pun (Non Islam) mengakui bahwa manusia yang paling super istimewa dalam bukunya “The lieder is the best” nama yang paling utama ditulis adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. maka tidak heran jika Ummat Islam sangat mengangungkan-Nya., hingga diyakini bahwa barang siapa yang mendengarkan nama-Nya disebutkan lantas tidak berselawat kepada beliau maka sesungguhnya dia lupa jalan menuju surga. Rasulullah akan bersama dengan orang-orang yang senantiasa berselawat kepadanya, sebagaimana Allah dan malaikatpun bersalawat kepadanya.

Mengagungkan Rasulullah sebagai Nabi pembawa Risalah terakhir, dan juga sebagai kekasih Allah, telah menjadi representasi aqidah ummat Islam. jangan sampai Tujuan inti Nabi diutus tidak sesuai dengan perintah al-Qur’an. Nurkholis Majid dalam bukunya “pintu-pintu menuju Tuhan”, mengingatkan bahwa Ummat Islam adalah penganut suatu agama yang tidak memandang tokoh utamanya atau sebutlah pendiri agamanya, dengan pandangan-pandangan mitologis. Ummat islam tentu saja menghormati Nabi mereka, tetapi penghormatan tersebut tidak sampai kepada sikap mendudukkannya lebih dari seorang manusia biasa, dari antara makhluk Allah. Jangan sampai memposisikan Nabi Muhammad setara dengan kedudukan Tuhan.

Mengagungkan Nabi melebihi mengagungkan manusia lainnya, atau menganggap Nabi tidak seperti manusia biasa lainnya, adalah sikap berlebihan yang seakan menganggap Nabi sebagagai utusan yang kekal. Berkenaan dengan ini, suatu peristiwa dramatis pernah terjadi pada waktu Rasulullah Wafat. Seseorang membawa berita menyedihkan itu kepada Umar Ra, tetapi reaksi beliau agaknya diluar dugaan si pembawa berita. Sebab mendengar berita wafatnya Rasul utusan Tuhan itu, Umar Ra menjadi sangat marah dan menghunuskan pedangnya dan mengancam akan merobek perut siapa saja yang mengatakan Nabi telah meninggal.

Untunglah Umar Ra segera ditemui oleh Abu bakar Ra. Sahabat Nabi SAW yang terkenal dengan kepiawaiannya dalam menyikapi setiap urusan. pikiran tenang dan jernihnya abu bakar menengur Umar Ra dan mengingatkannya bahwa sikapnya tersebut tidak sejalan dengan penegasan tentang hakekat diutusnya  Rasulullah dalam kitab suci (al-Qur’an) sendiri.

Maka dibacalah Abu bakar Firman Allah tersebut: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur”

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul…., Maksudnya: Nabi Muhammad SAW ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi Rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. karena itu Nabi Muhammad juga akan wafat seperti halnya Rasul-rasul yang terdahulu itu. di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah Dia tidak akan mati terbunuh.

Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad). Abu Bakar r.a. mengemukakan ayat ini di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan Para sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar Ibnul Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).

Pada peritiswa ini bahkan Abu Bakar memberitakan kematian Rasulullah dengan mengatakan bahwa memang Rasulullah telah wafat, lalu berkata, “Barang siapa mau menyembah Muhammad , ketahuilah bahwa Muhammad telah mati. Dan barang siapa mau menyembah Allah, maka Allah maha hidup dan tak kan mati.”

Rasul Muhammad adalah Manusia biasa seperti kita, penegasan ini disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Kahfi:110

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Dengan penegasan-penegasan itu, maka kaum muslimin sebagaimana yang telah disebutkan harus bebas dari sikap-sikap memitoskan Nabi sebagai Tuhan.

Perlu diketahui sikap seperti ini tidak mengurangi penghormatan kepada baginda Nabi. Sebab ajaran Islam adalah berasal dari ajaran yang dibawa Nabi, baik yang diperolah langsung dari Allah (kitab suci al-Qur’an), maupun yang beliau sabdakan, praktekkan, dan biarkan (menyetujui) yaitu sunnah. Dengan mengikuti beliau tampa harus mengkultuskannya sebagai manusia terbaik yang setara dengan Tuhan. Karena itu Nabi diutus dimuka bumi sebagai uswatun hasanah. Menyempurnakan akhlak manusia dengan menjadi contoh teladan. sikap yang benar adalah beriman kepada Rasulullah, meneladani dan meniru akhlak Nabi sepadat-padatnya, namun tampa memitoskannya.

Misi suci semua Nabi ialah menyeru ummat manusia agar beribadah kepadanya, Tuhan yang Maha Esa sebagaimana digambarkan dalam firmannya:

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.

Jadi, lahirianya Nabi diutus dimuka bumi sebagai pembawa ajaran kepada manusia untuk mentauhidkan Allah, membebaskan prasangka manusia dalam mempercayai sesuatu selainnya. Membebaskan Manusia dari belenggu syaitan, takhayyul, sihir. Meganggap sesuatu yang kuasa selain Tuhan. Bukan justru Hadirnya Nabi mengkultuskannya sebagai Tuhan yang akan memberinya kebahagiaan kelak. Padahal Nabi adalah Manusia biasa seperti kita.

Wallaahu a’lam…..

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*