Menyikapi Perbedaan Dalam Islam 


Misbah al-Mubarak Tamlycho
(Bendum Ikatan Da’I Muda Indonesia DKI Jakarta)

 

Ummat Islam sekarang ini semakin memperlihatkan taringnya, taring yang tajam namun patah dengan setangkai lidi. hal ini terjadi bukan karena kebersamaan ummat Islam dalam memahami kondisi yang terjadi di masyarakat, melainkan lahir beribu argument perbedaan pendapat yang saling memperkuat kelompok masing-masing. Sejalan dengan peristiwa diutusnya Rasul dimuka bumi ini, adalah sebagai pemersatu semua ummat yang beragama. baik Islam maupun Non Islam.

 

melalui ajaran-ajaran yang di contohkan Nabi, ummat Islam menerima secara kaffah bahwa inilah Rasul terkahir yang akan menyelamatkan manusia dari zaman biadab menuju ke zaman yang beradab. diutusnya Rasulullah adalah pondasi pertama ummat manusia memfungsikan akalnya yang selama ini terbelenggu dengan nafsuh kejahiliaan. kejahiliaan dalam arti diperbudak oleh kondisi ruhani. mereka pintar secara intelektual namun mereka jahil dalam spritualnya.

 

Siapa yang mengalahkan orang arab dalam hal transaksi perdagangan?, siapa yang mengalahkan orang arab dalam hal syairnya yang indah?, siapa yang mengalahkan orang arab dalam hal pembangunan?, siapa yang mengalahkan orang arab dengan hasil rempah-rempah yang melimpah?, jawabannya tidak ada yang menandingi kecerdasan orang Arab. satu-satunya bangsa yang tidak pernah dijajah adalah bangsa Arab. namun apa yang menyebabkan bangsa ini sebelum datangnya Nabi, disebut sebagai Masa Jahilyah?. mereka cerdas dalam pemikiran sementara ruhaniahnya tidak bersama dengan Tuhan. inilah kebohongan yang sebenarnya.

 

Islam lahir dari rahim yang satu, mulai dari Nabi Adam sampai Rasul terakhir Islam adalah Agama mentauhidkan Tuhan semata. tujuan Islam sebagai pengatur untuk ummat manusia untuk selalu menghambakan diri kepada sang pencipta. Sadar sesadar sadarnya bahwa adanya Tuhan yang mengadakan manusia sebagai manifestasi bentuk penciptaanya yang sangat luar biasa untuk mengatur alam. sebagai Kahlifah fil Ard. mengelola bumi sebaik-baiknya, bukan menjadikannya sebagai Tuhan. Islam yang rahmatan lil alamin akan mampu menciptakan kedamaian diseluruh penjuru dunia sampai kelak menuju samudra kekal akhirat.

 

lahirnya Islam dari rahim yang satu sangat memungkinkan jika tidak adanya perbedaan dan perpecahan. jika ini terjadi maka muncul sebuah teori perbedaan lahir dari persamaan, perbedaan lahir dari kebersamaan, perbedaan lahir dari peratuan. Munculnya perbedaan dalam memahami Islam telah disabdakan dalam Hadis Nabi. namun penekanannya bukan dari perbedaan yang menyelamatkan manusia, akan tetapi dari beberapa perbedaan itu hanya satu yang akan selamat masuk kedalam surga yang Allah janjikan. perbedaan adalah keniscayaan. namun perbedaan bukan berarti kita cerai berai. kita adalah ummat yang satu. merajut perbedaan menuju kebersamaan. merajut kebhinnekaan menuju kedaulatan. jangan perbedaan yang melahirkan perpecahan.

 

Salah seorang pakar politik pernah mengemukakan  tentang politik Islam pada masa Rasulullah SAW, dilihat dalam 3 pandangan:
1. Formalistik: beranggapan bahwa harus mendirikan negara khilafah Islamiyah. landasan hukumnya harus berlandaskan al-Quran dan al-Hadis.
2. Sekularistik: beranggapan bahwa urusan negara dan agama harus dipisahkan. konsep pribumisasi Islam, dan Islam Nusantara
3. Integralistik: Paham ini menyatukan 2 paham diatas.

 

dari ketiga paham yang dikemukan diatas dapat disimpulkan, bahwa perbedaan paham pasti terjadi karena berbeda cara memahami teks al-Quran maupun hadis. berbeda cara memahami peristiwa dan sejarah Nabi dan sahabatnya. namun, perbedaan itu disikapi dengan berkeyakinan urusan amal dan Kuatnya Iman adalah pengetahuan Allah.

 

 Wallahu a’alam…..

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*