GNKRI audiensi dengan Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP)


ACCnews, Jakarta (23/10/2017), Pancasila merupakan ideologi bangsa yang harus tertanam di berbagai elemen kebangsaan. Santri adalah entitas yang harus menanamkan secara aktif kepancasilaan-nya dalam ideologi kebangsaannya.
Dengan momentum tersebut, GNKRI (Gerakan Nasional Kebangsaan Rakyat Indonesia) melakukan audiensi dengan UKP-Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) yang disambut langsung oleh Kepala UKP-PIP, Yudi Latif. Audiensi tersebut dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2017 di kantor Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila.

Yudi Latif mengatakan bahwa pertemuannya dengan GNKRI, seakan menemukan missing-link, dimana UKP-PIP membutuhkan potensi kesantrian yang lahir dari kebangsaan dalam menangani masyarakat Islam perkotaan yang rawan terhadap kedangkalan pemahaman agama yang harus terinternalisasi dalam ideologi Pancasila.

Yudi Latif merasa bahwa melalui GNKRI, seakan menemukan harapan baru melalui GNKRI yang terkumpul dari elemen santri Gontor yang menurutnya sudah selesai pemahamannya terhadap konsep kebangsaan, khususnya pengetahuan terhadap ideologi Pancasila.

Potensi kesantrian ini, menurut Yudi Latif akan dapat menjadi mitra UKP-PIP dalam melakukan revitalisasi dan reaktualisasi pemahaman Pancasila. Dengan adanya pemahaman literatur kebangsaan yang rapuh, kadang Pancasila menjadi terancam eksistensinya di tengah klaim kebenaran yang dapat saja menjadikan Pancasila dalam persepsi yang sektarian.

Menurut Yudi Latif, ada dua hal yang menjadi fokus penguatan dalam UKP-PIP. Pertama, program inklusi sosial yang dimana basisnya adalah pesantren dan kampus umum.

Kedua, adalah keadilan sosial, dimana perlunya pengetahuan akan keterampilan dalam mempertahankan basis kehidupan kaum muda, khusus-nya santri dan mahasiswa. Disinilah seharusnya ada program survival economy yang berbasis pancasila pada pendidikan santri dan mahasiswa. Dimana lembaga pendidikan santri dan mahasiswa mempunyai kapasitas terhadap penguatan kesadaran untuk menghidupi dirinya, seperti capacity building. kalau hal ini diselesaikan, maka ini akan menjadi sabuk keselamatan kebangsaan kita. Marbawi, Ketua Umum Pengurus Pusat GNKRI mengatakan bahwa kita punya enam penguatan tapak Indonesianisme dan pancasialisme terhadap penguatan dan pengajaran sentralisme kebangsaan dan anti subordinasi. Hal tersebut, dimulai dari desa, pesantren, kampus, industri, kompleks dan masjid.

Marbawi, yang juga Wakil Ketua Kwarnas bidang perencanaan, pengembangan dan kerjasama tersebut juga mengatakan bahwa ada tiga hal yang bisa dilakukan secara gotong royong oleh UKP-PIP dan GNKRI.

Pertama, Intervensi moderasi santri/pesantren yang cenderung sektarian. Kedua, Kaderisasi kaum muda Pancasila sebagai kelompok penguat NKRI. Ketiga, Endorsment UKP-PIP kepada GNKRI untuk melakukan diklat penggerak Pancasila bagi publik. Keempat, Dukungan Publikasi keindonesiaan/kepancasilaan.

Yudi Latif, Kepala UKP-PIP didampingi oleh Silverius Yoseph Soeharso, Deputi Pengendalian dan Evaluasi UKP-PIP. Audiensi tersebut juga dihadiri oleh 15 Pemrakarsa-Pendiri GNKRI dan Pimpinan Pusat GNKRI masa bakti 2017-2022 diantaranya adalah Marbawi, Novriantoni Kahar, Fachmy Koto, Usman, Imron Rosyadi, Iif Fikriyah, Son Haji, Fadhly Azhar, Afthon Lubby, Budhy Firmansyah, Raja Armansyah, Zamril, Taufik Abdullah, dan Kyai Nanang dari Pondok Pesantren Cipanas.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*