Entah bagaimana memulainya…

Penulis : Herding (Mahasiswa Magister Filsafat Politik Islam Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra - Jakarta)

ACCnews-Entah bagaimana memulainya. Aku sadar akan semua yang kulakukan. Sikapku yang agak kasar dan mungkin menurutmu sangat kasar. Setiap perkataanku adalah amarah. Diamku juga petaka. aku hilang kau mencariku, menelponku dengan untaian kata rindu yang mendalam. Padahal baru dua atau tigahari. Aku pulang, kau menyambutku dengan diam. aku ngomel kau bilang aku marah. Setiap nada yang keluar dari mulutku adalah Bom. Aku punya Hati, dan hatiku tidak sanggup melihatmu mendiamiku seperti itu. Terkadang aku ingin lari dari kenyataan ini, tapi aku dihalangi oleh hatiku yang sangat mencintaimu.  Tubuhku tak sanggup dengan sikap manjamu, tapi Hatiku masih sangat membutuhkan semuanya. Semua hanya karena hatiku. Kau belahan jiwaku. Hingga tak ada satupun yang bisa memahami bagaimana besarnya cintaku padamu, sekalipun dirimu.

Sayang..maafkan aku. Disetiap nadaku yang keras, disetiap candaku yang kelewatan, disetiap malasku. Maafkanlah aku.  Aku anak baru yang memasuki pintu dewasa. Sebelumnya aku belum pernah merasakan kedewasaan. Melalui pintu ini begitu banyak jalan yang harus kulewati untuk sampai kedalam hatimu yang paling dalam. Jalan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terkadang jalannya lembut dan tiba-tiba hujan melanda, jalannya diterpa tsunami, jalannya berduri. Aku harus membuat jalan yang baru atau cukup melewati jalan berduri itu yang penting aku sampai kehatimu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*