INTERNATIONAL ISLAMIC EDUCATION EXPO 2017 ; Islamic Studies In Indonesia

ACCnews, Jakarta (21/11/2017), Kementerian Agama Republik Indonesia dalam hal ini Direktorat Jendral Pendidikan Islam melaksanakan kegiatan
“International Islamic Education Expo” di Nusantara Hall ICE -BSD Serpong-Tangerang (20-23 November 2017)

Pameran Internasional pendidikan Islam ini dihadiri Dosen dan birokrasi seluruh perguruan Tinggi Islam Keagamaan Indonesia,

Dalam rangkaian kegiatan, dilaksanakan Islamic Studies in Indonesia “the 17th annual International Conference on Islamic Studies” dengan mengangkat tema “Religion, Identity and Citizenship (Horizons of Islam and Culture in Indonesia)” 20 November 2017 pukul 20.00-23.00 Wib. dipandu oleh moderator handal Dr. Marissa Grace Haque, M.Hum, MBA, MH.,M.Si (STIE Indonesia Banking School)

Pembicara Utama pada Conference International ini adalah Mantan Wakil Menteri Agama RI dan sekarang menjabat sebagai Imam Besar Istiqlal Jakarta Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA bersama DIRJEN Pendidikan Islam Kementrian Agama RI Prof. Dr. Phil. Komaruddin, MA., Prof. Azrumard Azra, MA., PH.D (Guru Besar UIN JAKARTA), Prof. Amin Abdullah., Ph.D. (UIN Sunan Kalijaga Yogyajakarta), KH. Husen Muhammad (Fahmina Institute, Cirebon) dan Dr. Idrus alhamid, M.SI, (STAIN al-Fatah Jayapura)

Prof Nasaruddin berdampingan dengan Prof Komaruddin sebagai pembicara pertama dan kedua

Nasaruddin Umar sebagai pembicara pertama menyampaikan dari sisi tasawuf betapa miskinnya ilmu seseorang jika hanya berguru pada yang hidup, 496 wali, hampir semuanya belajar pada roh yang sudah lama wafat. Sebagai contoh kata MUHAMMAD dalam alquran selalu dibarengi dengan Fi’il Mudhori (waktu sekarang), itu berarti sampai sekarang Nabi Muhammad masih memberikan pengajaran untuk ummatnya.

Nasaruddin Umar sengaja menyampaikan unik unik ini karena kita sering membid’ahkan ilmu laduni. Padahal Nabi Muhammad setiap saat selalu datang mengajari kita, cuma kita tidak pernah sadar karena akal yang tidak mengakui. Sama halnya dengan Mimpi. Mimpi adalah salah satu refrensi yang harus diakui. jika kita tidak mengakui mimpi sebagai refrensi maka gugurlah hukumnya qurban”. Kata Nasaruddin Umar.

Lain halnya dengan Prof Komaruddin Amin, sebagai Dirjend Pendidikan Islam beliau menyampaikan konten pendidikan Islam yang ada di Indonesia.

Komaruddin menyatakan bahwa Indonesia hari ini yang islam moderat, inklusif, modern, pro perubahan, pro demokrasi dan sebagainya itu karena lembaga pendidikan Islam mulai dari Madrasah, perguruan Tinggi, Pondok Pesantren, memberikan kontribusi secara sinergis Produktif membentuk menjadikan Indonesia seperti hari ini.

Komaruddin berbicara sebagai birokrat menyampaikan sesungguhnya Kementerian Agama RI punya misi ingin menjadikan Indonesia sebagai tujuan, sebagai destinasi perubahan Islam yang akan datang. Karena kontribusi Indonesia menurut Komaruddin harus diekspor keluar. Lembaga pendidikan Islam di Indonesia harus menjadi ruh model untuk tradisi kesarjanaan Islam dibarat dan juga ditimur tengah.

Tiga hari kedepan, 21-24 November 2017 akan digelar Pameran Pendidikan Islam International (EXPO) dan satu-satunya Pondok Pesantren dari sulawesi selatan yang ikut berpartisipasi adalah Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang-Wajo.

Stand Pameran Pondok Pesantren As’adiyah

(Mubarak)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*