Banten Kota Santri, inilah Ciri Khas Santri Kobong..

ACCnews, Tangerang-Banten adalah salah satu Provinsi dengan sebutan Kota Santri, Kota Ulama. dahulu Banten adalah kiblat menuntut ilmu Agama Islam dipenjuru Nusantara, Ulama yang paling tersohor dan dikagumi adalah al’Alim Ulama Syeikh Nawawi al-Bantani.

Pengembangan Pendidikan ilmu berbasis Pesantren di Banten, khususnya ditangerang memberikan warna tersendiri. hal ini dibuktikan ketika Banten menjadi Tuan Rumah POSPENAS (Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren se-Indonesia) beberapa bulan yang lalu.

Salah satu yang menjadi buah perhatian adalah dibangunnya lembaga-lembaga pesantren yang berdiri sendiri, masyarakat Tangerang menyebutnya Kobong. maka lahirlah istilah Santri Kobong.

Santri Kobong adalah sebutan bagi Santri/Santriwati yang mengenyam ilmu pesantren secara Gratis dengan swadaya sendiri, tampa memungut biaya seperti pesantren-pesantren Modern. ciri khas Santri Kobong adalah memakai Sarung dan Peci. rata rata dari mereka adalah Santri yang mandiri, memasak sendiri, mencuci sendiri bahkan kreatifitas dalam dunia warausaha mereka terapkan.

Kyai Hartono, salah satu pimpinan Pesantren dengan swadaya sendiri, membina dan mendidik santrinya bukan sekedar membaca kitab, namun dilungkungan Pesantren disediakan Kolam peternakan lele.

“Santri berternak lele, hasil dari penjualan lele kemudian kita pakai untuk kebutuhan sehari-hari, Tutur Kyai Hartono.

Hasil Panen Lele Santri Kobong Kyai Hartono Solear

Ketua Dewan Mesjid Solear ini mengaku, bahwa begitu banyak anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah ketingkat yang lebih tinggi namun terkendala pada biaya, dengan Pesantren swadaya sendiri saya berharap bisa melahirkan Santri yang bermanfaat untuk masyarakat terutama untuk dirinya sendiri.

Penyuluh Agama Islam Solear juga turut memberikan sumbangsi yang besar terhadap kebutuhan Agama masyarakat. Ketua PAI Solear Bapak Saefuddin menuturkan, Ada 8 orang yang kami berikan Tugas mandat untuk mengawal setiap kegiatan keagamaan, baik yang berbau positif, negatif, radikal, dan seterusnya. keberadaan PAI ini sangat membantu bagi masyarakat agar tidak terpengaruh dengan segala bentuk ancaman kegamaan yang merusak generasi.

Ketua MUI Solear, H. Muslihat menambahkan MUI, DMI dan PAI bekerja bersama dan sinergi untuk mengawasi masyarakat dari ancaman ancaman yang merusak. baik pemikiran, terlebih lebih Aqidah. Aqidah ahlu Sunnah wal-Jama’ah adalah tidak boleh diganggu gugat.” tutur H. Muslihat.(MBK/Hd)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*