(Opini) Suara Anjlok Dan Mental Calon Pemimpin

ACCNews, Artikel-Mengamati pergerakan politik masa tenang hingga tiba masa tegang pada tanggal 17 April 2019, beberapa calon menampakan aura tegang efek menanti hasil surat suara di pilih langsung oleh rakyat. Kemenangan diraih beberapa aktor politik akibat kerja keras team mengatur strategi maupun taktik, memiliki tujuan memperoleh suara sesuai target ditentukan masing-masing partai politik menduduki kursi parlemen. Calon pemimpin semestinya menerima keputusan ditentukan KPU sebagai simbol kebijaksanaan terhadap menerima penjumlahan surat suara baik di Kecematan maupun Kabupaten. Calon agresif terhadap hasil perhitungan akibat problem surat suara tidak sesuai dengan konsep yang nyata.

Pertarungan politik semestinya mengutamakan menerima hasil telah ditentukan perhitungan setiap TPS bagi pemilih, bukan mencelah atau memaki KPPS sebagai petugas utama dalam menyukseskan pemilu tahun 2019. Kritikan mulai dilontarkan calon, efek kinerja tidak sesuai harapan mengakibatkan suasana semakin tegang akibat kepentingan individu dibanding meningkatkan silaturahmi sesama calon. Tahun sebelumnya pemilihan calon pemimpin berdampak fatal terhadap kandidat tidak memenuhi syarat menduduki jabatan, akhirnya prustasi atau gangguan mental terhadap calon. Membuat seperti demikian, terlalu arogansi dalam pertarungan politik merebut kemenangan, akhirnya berdampak terhadap calon pemimpin.

Keputusan KPPS perhitungan suara sebagai bentuk keadilan menegakan politik kemanusiaan dimata publik. Saat ini, kandidat tidak menerima hasil keputusan karena pengaruh isu tidak memberikan contoh bermoral menuntaskan perhelatan politik. Padahal tendensi politik dan doktrin sudah terasuki setiap pemilih, namun apata daya semuanya berputar balik akibat money politik merubah identitas pergerakan. Politik semestinya memiliki pungsi dalam sosial meruabah kondisi masyarakat menjadi lebih baik melalui pembangunan infrastruktur, maupun merubah pola pikir menjadi brilian efek teraktualnya poitik kemanusiaan. Masyarakat menumbuhkan kesadaran melihat pergerakan calon yang betul-betul memiliki fungsi merubah ekonomi masyarakat dengan membukakan lapangan kerja bagi rakyat.

Beberapa calon menduga terjadihnya kebohongan terhadap perhitungan akibat tidak sesuai menentukan suara real dengan suara fiksi, mengakibatkan mengklaim bahwa kemenangan jatuh pada kandidat memiliki jiwa ego sentris. Calon pemimpin sulit menumbuhkan jiwa legowo terhadap kandidat yang menang, masing-masing memiliki presepsi terhadap kata menang dalam pembacaan politik mulai dari mengatur strategi politik hingga sampai dengan perhitungan suara terdapat perbedaan. Seyognya hasil KPU dapat terhianati setiap calon akibat terbangun dalam pola pikir presespsi tampa sesuai fakta yang ada. Calon seperti demikian, biasanya mudah terobsesi pemikiran jangka pendek akibat tidak menerima adanya kekalahan terhadap calon yang lain. Kesadaran berpolitik sudah termaktub dalam pergerakan menumbuhkan nilai demokrasi sebagaimana mestinya.

Awal gerakan mengalami kecurangan efek money politik diutamakan terhadap kandidat, mengakibatkan nilai politik terbengkalai ulah pemimpin tidak memaknai prinsip politik ideal. Secara fakta beberapa kandidat mengeluarkan ekonomi sampai ratusan juta untuk kepentingan pemilih, tujuannya lebih dekat kandidat bersankutan, perlu di pahami memabangun konsep politik berlandaskan elektabilitas terhadap kandidat seperti, membangun silaturahmi, membangun infrastruktur, dan membukakan lapangan kerja untuk rakyat, bukan melalui carajitu merusak konsep politik bermoral. Sebagian kandidat lemah mental melihat surat suara tidak sepadam dengan hasil realitas akibat mengandalkan uang sebagai penentu kemenangan.

Widyawati mengatakan, seseorang yang terkenal atau tokoh masyarakat akan memiliki tekanan mental lebih besar. Orang yang semakin terkenal, tekanan sosialnya akan semakin berat. Misalnya, seorang petahana atau pejabat, akan lebih berat tekanannya saat bertarung dalam pilkada. Kita mengetahui, mempertahankan jabatan itu tentunya lebih sulit, katanya. Tentu saja kesiapan mental dalam setiap pertarungan atau kompetisi sangat dibutuhkan, ujian apapun sangat penting, ketahanan mental seseorang akan diuji dan ini sangat tergantung dengan kepribadian dasar seseorang, kata Widyawati.

Sementara itu, dr. Andri, SpKJ, FAPM, dari Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang, mengatakan, sikap baik dalam menerima kekalahan atau kemenangan seorang pemimpin akan bisa memengaruhi massa pendukung mereka. Sebagian besar para calon akan merasa dirinya bisa menang dalam pemilihan dan kita tahu hanya akan ada satu pemenang saja. Nah, bila seorang pemimpin berperilaku secara kesatria menerima kekalahan atau merayakan kemenangan dengan baik, maka sikap ini juga akan mempengaruhi massa pendukungnya,” katanya, kepada Kompas.com, Senin (25/6/2018).

Menurut Andri, untuk mencegah depresi terjadi, para pemimpin dan juga massa pendukung harus memahami bahwa menang atau kalah dalam sebuah kompetisi adalah hal biasa. Baik menang atau kalah itu hal biasa, terimalah dengan baik. Kalau kalah, tidak usah terlalu frustrasi dan bila menang, juga tidak harus berlebihan, katanya.

Calon pemimpin dibekali pengetahuan menerima kemenangan maupun kekalahan berkompetisi. Calon pemimpin tidak terlalu frustasi menerima kekalahan berpolitik, karena menganggap hal lumrah sebuah pertarungan. Pergerakan berefek negatif terhadap kandidat akibat tidak sesuai harapan dan kenyataan memperoleh hasil akhirnya berdampak terhadap pola pikir calon pemimpin. Saat ini, kandidat memikirkan materi teraliansi di hadapan rakyat faktor strategi tidak sesuai nilai politik ideal. Membangun politik praktis semestinya di sesuaikan sistem berlaku di instansi pengawasan, tujuannya mengurangi rasa frustasi ketika memperoleh hasil kekalahan berkompetisi.

Membangun kesadaran dalam berpolitik tidak terjadi keculasan, memiliki langkah awal menyadarkan para kandidat menjalankan politik tidak mengutamakan tendensi politik di hadapan rakyat dan tidak merusak identitas melalui pergerakan money politik. Calon pemimpin semestinya menerima kekalahan dengan mengitropeksi identitas pergerakan mengakibatkan masyarakat tidak sepenuhnya berpihak terhadap kandidat. Bukan serta merta menyalahkan lembaga pengawasan tidak melaksanakan tugas secara profesional, akibat kekalahan akhirnya segala keputusan maupun kewenangan tidak menerima hasil secara penuh. Calon kandidat sebelum menjalankan pertarungan politik semestinya menaruh dalam jiwa sifat legowo menerima keputusan baik bersifat menang maupun kalah dalam menjalani politik.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk dengan rasa egosentris yang tinggi. Hal ini ternyata membuat manusia sulit untuk menerima sebuah kekalahan atau kegagalan dalam sebuah kompeitisi. Sulit menerima kenyataan terhadap sebuah kekalahan itu menimbulkan tekanan mental dalam diri seseorang yang memicu gangguan depresi.

Penulis

Nama : Ma, ruf, S. Pd.I
Organisasi : Guru MTs. Husnul Khatimah Polewali, Relawan Demokrasi Sulawesi Barat
No hp : 085242822903

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*