MABBULO AASÉ, KEARIFAN LOKAL KHAS LALLISENG

ACCNews, Jakarta-Lalliseng adalah sebuah entitas politik berdaulat pada masa pra-kemerdekaan. Lalliseng merupakan salah satu “wanuwa” (negeri) dari “piitu” (tujuh) pembentuk awal eks-konfederasi Pitumpanuwa.
Era merdeka memasuki babak baru bagi Lalliseng dengan wujudnya sebagai sebuah Desa. Desa adalah konsep tanah Jawa yang diimpor ke Sulawesi. Meski banyak yang menganggapnya sebagai sebuah indonesianisasi, status Lalliseng sebagai desa tak membuat kaum petani meninggalkan tradisi lama mereka.

Mabbulo aasé secara harafiah berasal dari kata “ma” (sebuah awalan penanda verba/kata kerja), “buulo” (bambu kecil), “aasé” (padi yang dibudidayakan di sawah). Menilik asal katanya dari segi teks, dan melihat konteks yang ada, kata ini dapat diartikan “menancapkan bambu kecil di lahan persawahan di mana padi dibudidayakan”.
Ini adalah sebuah kearifan lokal (local wisdom) yang masih bertahan hingga kini dan masih dirawat dengan baik oleh para kawula warga di Lalliseng.

Penancapan bambu kecil ini dilakukan setelah acara Manré Sipulung bubar. Manré Sipulung adalah semacam “pisowanan ageng” (pertemuan akbar) rakyat dengan pemimpinnya dalam rangka pengambilan keputusan strategis.
Bambu kecil yang ditancapkan di hamparan sawah menandakan kesiapan rakyat dan warga desa mengejawantahkan dan melaksanakan hasil rapat.

Ianya juga menjadi petanda bagi mereka yang tiada dapat hadir pada rembug desa ini, bahwa telah terjadi pertemuan akbar dan sebuah mufakat telah diambil dan mereka harus sepakat jalan bersama.
Sore kemarin (26 Juni 2019), Camat Keera Andi Muhammad Al-Fati bersama Kepala Desa Lalliseng menghadiri Manré Sipulung ini. Pada rapat tersebut, terlihat antusiasme warga menyambut penunjukan Lalliseng sebagai tuan dan nyonya rumah acara tujuh belasan level Kecamatan Keera.

“Butuh waktu paling singkat sepuluh tahun lebih untuk menjadi tuan rumah lagi,” ujar Ambo Unga, Kades Lalliseng. Menurut catatan penulis, Lalliseng terakhir menuanrumahi perayaan HUT RI pada tahun 2002.
Pada rapat ini mereka sepakat menghiasi rumah-rumah mereka dengan pagar bambu setinggi satu meter bercat merah putih sepanjang bulan Agustus.

Selain Camat dan Kepala Desa, acara Mabbulo Aasé ini turut dihadiri penyuluh pertanian dan pendamping desa. Hadir pula perwakilan Polsek Keera dan Pos-Koramil. Salah satu masalah hangat yang dibicarakan adalah wacana Bumdes Lalliseng untuk membuka unit usaha penjualan pupuk untuk membantu para petani.

Disepakati pula bahwa mereka secara urunan akan menyiapkan seekor sapi yang akan disembelih dan disantap secara bersama pasca-panen raya nanti sebagai tanda kesyukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah Azza wa Jalla) sang Causa Prima, penyebab pertama dari segala.

Acara “Maddengngeng Bawi” atau berburu babi sebagai pengganggu tanaman turut pula disepakati.
Pitumpanuwa Raya memang kaya akan warisan masa silam yang masih dapat bertahan hingga kini

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*