RUMPUT YANG BERGOYANG

Entahlah. Boleh jadi Tuhan memang sedang murka. Namun saya kira benar bahwa alam tampaknya sedang tak bersahabat dengan kita. Merapi memuntahkan laharnya. Belum habis air mata kita, Irian Jaya dan Samarinda diterjang banjir.

Api. Air. Inikah tanda kemarahan alam? Jika iya, mengapa Tuhan ijinkan alam untuk mengeskpresikan kegalauannya? Sampai kapan Tuhan ijinkan alam untuk marah? Alam marah, benarkah ini juga berarti Tuhan sedang marah?

Ah, tiba-tiba gugatan dan renungan Ebiet belasan tahun yang lalu terdengar kembali dan mampir ke kamar saya. Bedanya, saya masih punya harapan, walaupun diimbuhi sedikit rasa cemas.Harapan itulah yang membuat saya tak bertanya pada rumput yang bergoyang. Harapan itulah yang membuat saya “merayu” Tuhan dalam do’a-do’a saya. Semoga Tuhan segera menyuruh alam berhenti “ngambek”.

Rumput bergoyang,

merapi berguncang,

dataran tergenang

Ah…duhai alam, terimalah salamku, bukankah tak baik kalau kita bertengkar lebih dari tiga hari?

(TAMLYCHO)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*