OTOBIOGRAFI PEMUDA MUSLIM MAKASSAR

ACCnews, Makassar (21/11/2017), Kala itu, tahun 1998 bara semangat para mahasiswa dari berbagai daerah berkobar diatas bumi pertiwi untuk meruntuhkan rezim yang dzalim, yang dikenal sebagai runtuhnya rezim orde baru, yang dikenal sebagai era reformasi. Tahun itu pula, sebelum mahasiswa meneteskan air mata kemenangan atas runtuhnya rezim orde baru, aku pun lebih dulu menangis, keluar dari rahim ibuku dan bersentuhan langsung dengan udara segar Indonesia. Tepatnya 30 april 1998, aku lahir di sebuah gedung yang dekat dengan tangisan kebahagiaan, tangisan kesakitan, keluh kesah, darah,dan harapan yakni di Rumah Sakit Umum Pare-Pare. Aku diberi nama fahuwa khaerul. Orang yang pandai berbahasa arab tertawa mendengar namaku yang aneh dan lucu, karena ia memikirkan ketika aku ditanya namaku, ma ismuka (siapa nama kamu) ? Jawabanku pasti adalah ismii fahuwa khaer (namaku adalah maka dia baik) itu menggelitiknya karena itu tak nyambung sama sekali, aku yang ditanya namun aku menunjuk dia (dari segi arti).

Saya tinggal di jalan al-muhajirin no. 65, kelurahan pajalesang, kecamatan lilirilau, kabupaten soppeng, provinsi Sulawesi Selatan. Ayahku adalah rusdi husain, pekerjaannya ialah wiraswasta, yakni TV kabel, terakhir ayahku kuliah di Universitas 45 Makassar jurusan ekonomi namun ia tak sampai sarjana karna menemui api Asmara, ia menikah dengan gadis dari jurusan pertanian, dialah suharti nurdin yakni ibuku. Ibuku juga berhenti kuliah kemudian ia menjadi ibu rumah tangga sekaligus menjual pakaian anak kecil dipasar. Ibuku berdarah NU dan ayahku juga NU sehingga seperti yang lainnya kami hidup normal. Ibuku mengajariku membaca dan menulis, seringkali aku menangis ketika diajari olehnya karena ia orangnya suka teriak teriak sehingga psikologiku terganggu dan hasilnyapun aku menangis. Nenekku adalah Hj.Asbaha, ia lah sosok yang mengajariku persoalan keagamaan, nenekku tinggal bersama kami, ia mengajariku mengaji dengan menggunakan iqra’ namun aku tidak suka mengaji karena begitu sulit, sehingga aku sering pergi bermain bersama kawan kawanku dan menghiraukan nenek. Meski begitu, aku sangat rajin ikut nenek ke masjid dan aku sering ikut barazanji karena banyak hidangan kue setelah barazanji yang dengan berbagai macam kue(khas bugis) semisal sanggara’, onde-onde, jempo-jempo, barongko, dan lain lain.

Ketika Bulan Ramadhan, aku ikut mappakkedde'(menggerakkan / mempergegaskan), kami terdiri dari 5 orang, tugas kami yakni berteriak dengan lafadz arab yang berfungsi untuk mengingatkan jemaah tarawih bahwa salat tarawih akan segera mulai, mengingatkan untuk berniat puasa untuk hari esok, mengingatkan jumlah rakaat, serta mengingatkan bahwa tarwih akan segera berakhir. Dikampungku, ada pula yang disebut maccera’ aqorang (mensucikan/memuliakan al-qur’an) yakni ketika anak mengaji telah selesai mengaji 30 juz kemudian ia membuat acara makan-makan di rumah sang guru, dan memanggil orang lain untuk menghadirinya. Prosesnya pun tergolong unik, si anak(yang selesai) disuruh untuk memakan gula, kelapa, dan benno ase(popcorn padi). Semua itu berupa simbol, aku tak tahu falsafah apa yang terkandung didalam simbol itu. Saya tidak melakukannya karena saya tak tamat mengaji(30 juz) dan nenekku pun, tak menjadikan tradisi tersebut sebagai sesuatu yang wajib.

Saya mahasiswa jurusan tafsir hadis angkatan 2016 yang berfokus pada ilmu al-qur’an dan tafsir di UIN ALAUDDIN MAKASSAR. Jurusan ini adalah pilihan pertamaku,saya memilihnya karena mengaji adalah hobiku dan saya sangat menyukainya dalam artian mengaji dengan nada-nada khasku sehingga al-qur’an serasa menyetubuhiku,masuk ketubuhku, mengalir bersama darahku, dan seirama dengan detak jantungku. Saya alumni Pondok Pesantren Yayasan Perguruan Islam Ganra(YPIG). Pondok tercintaku ini terletak di areal persawahan, dan dikeliling pagar besi dibagian depan dan pagar tembok bagian samping dan belakang. Di dalam yayasan ini, terdiri dari berbagai tingkatan sekolah, mulai dari TK, SD, MIS, MTS, SMP, DAN MA. Saya lulus di Mts pada tahun 2013 dan lulus di Ma di tahun 2016, disinilah saya berkembang. Pada mulanya ust ali musyafa mendidik saya untuk disiplin dengan pola pengasuhan militer, ia berasal dari Jawa, ia begitu disiplin dan keras dalam mendidik kami, dia adalah api. Saya sering keluar ceramah dan mengoleksi buku ceramah as’adiyah, sekitar satu dos air gelas, penuh dengan buku ceramah, ada pula kitab irsyadul ibad, kisah-kisah nabi, dan buku fiqhy sebagai bekal untuk tugas selama 1 Bulan (Ramadhan) dikampung orang.

Guruku ust awaluddin lah yang membimbingku dan mengajariku untuk persiapannya. ia berasal dari sengkang, ia lembut namun tegas, ia adalah air. Pria yang kreatif, hebat membuat kaligrafi, hebat dalam berbahasa arab, hebat bermain bola, main gitar, dan menguasai berbagai cabang keilmuan, itulah ust zaenal abidin. Berasal dari Jawa pula, ia dan ust ali datang bersama untuk mengabdi dipondokku sekaligus melanjutkan jenjang pendidikannya yakni S-1, ustas zaenal adalah angin. Induk dari ketiga elemen ini ialah tanah, itulah ibuku, ibu kami, dan ibu dari anaknya, dialah ibu kasmawati. Ibu kasma, pandai dalam berbahasa inggris, bijak dalam memberi solusi. Sehingga apabila terdapat problem pada pondokku waktu itu, ialah menjadi kiblat dalam mewujudkan sebuah solusi. Beliau menjadi paku dalam pondok kami, menyuburkan(memotivasi), serta membersihkan kerohanian kami ketika disubuh hari dengan nasihat-nasihatnya. Ketika mereka punya mario Teguh maka saya punya ibu kasma. Ke-empat elemen ini yakni api, air, udara, dan tanah kemudian menjadi avatarku, penonjang pengetahuan keislamanku.

Aku merasakan diriku berislam, sejak bergelut didunia mahasiswa, yang mana ketika aku bertemu dengan mata kuliah pengantar filsafat semester 2. Aku terangsang untuk menelanjangi yang namanya filsafat ini. Aku merasa hidup, setelah bertemu dengan thales,anaximandros, anaximenes, plato, aristoteles, dan para filsuf Yunani lainnya. Kemudian setelah itu aku mencari tokoh-tokoh filsuf muslim dan kemudian membongkarnya yang ternyata telah aku temukan sebelumnya, namun aku tak tahu bahwa mereka adalah filsuf islam. Yang kutahu, mereka hanyalah orang cerdas, ini adalah efek karna ketidak tahuan akan filsafat, tokoh-tokoh diantaranya yakni imam al-gazali, ibnu rush, al-farabi, ibnu sina, al-kindi, dan lain sebagainya. Mereka menyadarkanku bahwa dulu aku tertutup, merasa diri paling benar akan pemahaman yang bersumber dari keturunan dan pondokku. Mereka mengubahku dari sosok ekslusif(tertutup, dalam artian merasa paling benar dalam perbedaan/melihat negatif perbedaan itu) menjadi sosok yang inklusif(melihat positif perbedaan itu). Namun aku belum menyentuh zona pluralis(melihat bahwa dalam perbedaan semuanya memeliki kebenaran masing-masing) hingga aku dibenturkan oleh sbuah kata yakni GELISA.

Memasuki semester 3, aku merasa kegelisahan menghantuiku. Aku gelisa melihat kondisi sosial-politik negaraku yang menjadikan agama sebagai alat politik terampuh, melihat keharmonisan hubungan sesama umat beragama sedang digoyahkan, bahkan keharmonisasian dalam islam tak lagi kulihat, melihat orang lain sibuk saling mencaci maki dan memverifikasi dirinya bahwa ialah yang paling benar serta menyalahkan yang lain. Yang mana, sebenarnya ini adalah problem yang lama telah ada, namun aku bru menyadarinya. Sehingga timbul pertanyaan dihatiku “siapakah yang benar, dimanakah kebenaran itu?”. Akupun sadar bahwa selama ini aku terlarut dalam lautan hoaks dan provokasi oleh media sosial semisal, ig, wa, fb, dll. Selama ini aku selalu melihat apa yang nampak tanpa menengok apa dibalik yang nampak itu. Lagi-lagi aku mencari kebenaran itu, dimanakah kebenaran itu? dan itu terus mengangguku membuatku kepanasan akan menanti jawabannya. Hingga sebuah acara yang diadakan pukistek(pusat, kajian, islam, dan teknologi) dari lp2m yakni PIPIM(pelatihan intensif pengembangan intelektual islam). Pesertanya pun ada 40 orang, kebanyakan yang semester 5-7 dari lintas fakultas, bahkan lintas universitas. Mereka semua hebat, fasih dalam berbicara, kritis dalam berpikir, menjadi sosok penerus bangsa yang hebat bagiku. Pematerinya jujga orang yang luar biasa, menanamkan ontologi yang kuat pada mereka yang baru berislam serta mempertkuat pondasi mereka yang lebih dulu menemukan islamnya dan mereka juga dekat dengam buku. Moderatornya pun tak kalah hebatnya, kak fadlan dan kak Fajar, yang dekat dengan pula dengan buku. Setiap berbicara selalu keluar referensi buku dari bibirnya, akupun berkata “dekat dengan bukulah kunci kesuksesan”. Pak wahyuddin Halim lah yang menjadi inspirasiku, beliau lulusan luar negri yakni Australia dan canada, ia ketua pukistek sekaligus pemateri waktu itu. Ia menghantarku kepada pluralis, dengan pengetahuannya terhadap islam. Aku menyadari pluralis ketika ia menjelaskan islam secara universal, menjelaskan sejarah agama, menggambarkan sebuah gunung yang mana didalamnya terdapat berbagai agama, namun islam yang paling lurus sampai ke Puncak, yang lainnya pun tetap sampai akan tetapi berlika-liku, dan berbagai penjelasannya yang sangat masuk akal bagiku dan membuka pemikiranku menjadi lebih telanjang. Berkatnya(wahyudin Halim) pula aku bertemu dengan Nur khalis majid, yudi latif, dan berbagai cendikiawan muslim lainnya. Terimah Kasih pipim, pukistek, pemateri, moderator, pesertanya, dan tuhan karena telah mempertemukan kami
Selepas dari itu, aku adalah orang yang suka mendengar sajak, syair, dan kata. Saya sangat gemar berbicara didepan umum. Ketika ada sebuah forum, tangan ku gatal untuk berbicara (entah itu bertanya atau menanggapi). Saya tak peduli benar atau salahnya karena apabila saya salah maka orang lain akan membenarkannya, saya menganggapnya sebuah benturan, benturan yang mengantarku menjadi dewasa dan bertemu dengan sebuah kebijaksanaan. Namun, aku merasa ada yang kurang, yakni aku ingin abadi dan caranya ialah menulis. Saya bertanya pada hati “apa yang akan kutulis? Bagaimana aku menulis? Kapan aku memulainya?”. Hingga hari dimana terjadi genosida terhadap orang muslim di Myanmar, aku sedih serta turut prihatin melihat sodaraku disana, dan kecewa, ketika mengingat pemegang nobel perdamaian dari Myanmar(aung san suu kyi) itu hanya diam akan tragedi tersebut. Yang membuatku heran yakni pada sebagian penduduk negaraku, penganut buddhisme di myanmar yang membantai namun mengapa mereka malah menyakiti penganut budha yang ada di Indonesia?, bahkan sesama orang islam saling menghujat dan bertikai akibat pro dan kontra akan masalah disana yang dibawa ke indonesia. Dari situlah aku memulai sebuah tulisan pertamaku yang berjudul “menumbuhkan kesadaran ukhuwa islamiyah”. Jelang beberapa minggu, saya kembali menulis tulisan yang berjudul “alqur’an menelanjangi manusia”, kemudian menulis puisi berantai dengan judul “bisikan rumah kelelawar”. Sejak saat itulah tulisan menjadi bagian dari tubuhku.

Editor: Herding

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*